Pages

Jumat, 25 Juni 2010

zaman batu

PALEOLITIKUM

CIRI EKONOMI:

 Berburu dan mengumpulkan makanan tingkat sederhana.
 Hidup Berburu penangkap ikan, dan pengumpul bahan makanan seperti buah-buahan, umbi-umbian, dan bahan makanan lainnya, menjadi sebuah kebiasaan sehari-hari mereka, berusaha mengumpulkan makanan sebanyak-banyaknya.

CIRI-CIRI SOSIAL:
 Hidup berpindah-pindah (Nomaden)
 Hidup berkelompok


CIRI-CIRI KEBUDAYAAN:
 Peralatanya terbuat dari batu yang dikerjakan secara kasar.
• Kapak Genggam
• Alat-alat dari tulang binatang atau tanduk rusa
• Flakes, yaitu alat-alat kecil yang terbuat dari batu Chalcedon

 Peralatanya yang dihasilkan tidak diasssah atau dihaluskan
 Kebudayaan yang masih primitif dan sederhana
 Meninggalkan sampah dapur (kjokken moddinger)

CIRI-CIRI KEPERCAYAAN:
o Polytheisme (banyak paham)
o Menyakini adana hubungan antara orang yang telah meninggal dengan yang masih hidup


MESOLITIKUM

CIRI-CIRI SOSIAL:
Hidup mulai menetap (semi sedenter) digua-gua


CIRI-CIRI KEBUDAYAAN:
Kebudayan sampah dapur (Kyokken Moddinger)
Peralatannya terbuat dari batu telah lebih halus dari pada zaman Paleolitikum
• Kapak genggam Mesolitikum ini disebut juga dengan Pebble Culture atau kapak Sumatera.
• Ada juga jenis hache courte atau kapak pendek.
• Pipisan (batu-batu penggiling)
• Kapak-kapak tersebut terbuat dari batu kali yang dibelah
• Flaces (alat serpih) , yaitu alat-alat kecil yang terbuat dari batu dan berguna untuk mengupas makanan.
• Ujung mata panah,
• alat-alat dari tulang dan? tanduk rusa

CIRI EKONOMI:
Berburu dan menangkap ikan



CIRI-CIRI KEPERCAYAAN:

Mereka telah mengenal kepercayaan sistem penguburan sebagai bukti penghormatan terakhir kepada orang yang meninggal. Hal ini terbukti dengan didirikan kuburan sebagai bukti penghormatan terakhir pada orang yang meninggal




NEOLITIKUM

CIRI-CIRI SOSIAL:
 Hidup menetap (Sedenter), dan memiliki tempat tinggal bukan di gua
 Hidup dari bercocok tanam



CIRI-CIRI KEBUDAYAAN:
 Alat-alat yang dipakai berasal dari batu yang sudah dihaluskan dan sempurna
Hasil kebudayaannya adalah:
a. Kapak persegi
b. Kapak Lonjong
c. Kapak Bahu
 Tembikar tenun dan batik
 Pertanian menetap
 Peternakan
 gelang batu.
 Perhiasan ( gelang dan kalung dari batu indah)
 Pakaian (dari kulit kayu)



CIRI EKONOMI:

 Masa beternak dan bercocok tanam awal





CIRI-CIRI KEPERCAYAAN:
 Orang-orang yang telah meninggal rohnya pergi ke suatu tempat yang tidak jauh dari tempat tinggalnya atau roh orang yang meninggal itu, tetap berada disekitar wilyah tempat tinggalnya, sehingga sewaktu-waktu dapat dimintai bantuannya.
 Kepercayaan dinamisme Dinamisme merupakan kepercayaan bahwa setiap benda memiliki kekuatan gaib.






MEGALITIKUM:



CIRI-CIRI SOSIAL:
Berkembang dari zaman neolitikum sampai zaman perunggu
Manusia sudah dapat membuat dan meninggalkan kebudayaan yang terbuat dari batu-batu besar


CIRI-CIRI KEBUDAYAAN:
Terbuat dari batuan besar:
• kapak persegi
• kapak lonjong
• Menhir
• Dolmen
• Kubur batu
• Waruga
• Sarkofagus
• Punden Berundak
• Arca

CIRI EKONOMI:

Membuat alat-alat yang terbuat dari batu besar




CIRI-CIRI KEPERCAYAAN:
Mulai mengembangkan ide keagamaan dengan mendirikan bangunan batu berukuran besar atau megalitik. Budaya megalitik inilah yang menjadi ciri khas asli nenek moyang Indonesia, sebelum menerima pengaruh Hindu, Islam, dan kolonial.
Manusia sudah mengenal kepercayaan utamnya animisme
Kepercayaan Monoisme merupakan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.













KEHIDUPAN MASYARAKAT BERBURU DAN MENGUMPULKAN MAKANAN

Masa berburu dan mengumpulkan makanan Pada masa ini secara fisik manusia masih terbatas usahanya dalam menghadapi kondisi alam. Tingkat berpikir manusia yang masih rendah menyebabkan hidupnya berpindah-pindah tempat dan menggantungkan hidupnya kepada alam dengan cara berburu dan mengumpulkan makanan.

1 Lingkungan alam kehidupan

Kehidupan masyarakat berburu dan mengumpulkan makanan sangatlah sederhana. Kehidupan mereka tak ubahnya seperti kelompok hewan, karena terganung pada apa yang disediakan oleh alam.
Pada masa itu, manusia tinggal di alam terbuka seperti, hutan, tepi sungai, gunung, goa, dan lembah.
Dengan keadaan alam yang sangat berbahaya itu, manusia telah melakukan perjalanannya cenderung melalui tepi-tepi sungai. Dalam perjalanan menyusuri sungai inilah timbul fikiran mereka untuk membuat rakit-rakit. Bahkan , pada masa selanjutnya merek dapat menciptakan perahu sebagai sarana perjalanan untuk melalui sungai.


2. Kehidupan sosial


Masyarakat pada masa itu, telah mengenal kehidupan berkelompok. Jumlah anggota dari setiap kelompok sekitar 5 -15 orang. Mereka hidup berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lainnya. Perpindahan yang mereka lakukan itu, bertujuan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya karena mereka hanya mengandalkan keadaan alam. Dan setelah persediaan dalam hutan habis, mereka terus mencari tempat berburu lagi untuk memenuhi kehidupannya.
Hubungan antar anggota kelompok sangatlah erat, mereka saling menjaga anggota kelompoknya dari serangan binatang buas atau kelompok lain. Meskipun kehidupan mereka masih sangat sederhana, mereka telah mengenal adanya pembagian tugas kerja. Kaum laki-laki, bertugas untuk berburu dan kaum perempuan bertugas untuk memelihara anak serta mengumpulkan buah-buahan dari hutan.
Dengan demikian, pada masa berburu dan mengumpulkan makanan, telah terlihat adanya tanda-tanda social dalam suatu kelompok masyarakat walaupun tingkatannya masih sangat rendah.


3. Kehidupan budaya

Pada masa itu, manusia lebih senang memilih goa-goa sebagai tempat tinggal mereka. Dari sini, mereka mulai tumbuh dan berkembang. Mereka mulai membuat alat-alat berburu, pemotong, pengerup tanah, dll.
Dan kebudayannya disebut tradisi paleolitikum. Benda-benda hasil kebudayaan zaman tersebut adalah sebagai berikut :
• Kapak perimbas, tidak memiliki tangkai, dan digunakan dengan cara menggenggam
• Kapak penetak, memiliki bentuk yang hapir sama dengan kapak perimbas tetapi bentuknya lebih besar dan cara pembuatannya masih sangat kasar.
• Kapak genggam, memiliki bentuk yang hamper sama dengan kapak perimbas dan kapak penetak tetapi bentuknya jauh lebih kecil, dibuat dengan cara yang sangat sederhana, dan belum diasah.
• Pahat genggam, memiliki bentuk lebih kecil dari kapak genggam dengan fungsi untuk menggemburkan tanah dan mencari ubi-ubian
• Alat serpih, memiliki bentuk yang sangat sederhana, dan digunakan sebagai pisau, gurdi dan alat penusuk.
• Alat-alat dari tulang, terbuat dari tulang binatang buruan dengan fungsi sebagai pisau, mata tombak, mata panah dll.


4. Kehidupan ekonomi masyarakat.


Pada masa itu, masyarakat telah mengenal kehidupan berkelompok. Jumlah anggota dari setiap kelompok sekitar 5 -15 orang. Mereka hidup berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lainnya. Perpindahan yang mereka lakukan itu, bertujuan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya karena mereka hanya mengandalkan keadaan alam. Dan setelah persediaan dalam hutan habis, mereka terus mencari tempat berburu lagi untuk memenuhi kehidupannya.
Hubungan antar anggota kelompok sangatlah erat, mereka saling menjaga anggota kelompoknya dari serangan binatang buas atau kelompok lain. Meskipun kehidupan mereka masih sangat sederhana, mereka telah mengenal adanya pembagian tugas kerja. Kaum laki-laki, bertugas untuk berburu dan kaum perempuan bertugas untuk memelihara anak serta mengumpulkan buah-buahan dari hutan.


5. kehidupan kepercayaan masyarakat


Penemuan kuburan dari masa berburu dan mengumpulkan makan menunjukkan bahwa masyarakat pada masa itu, sudah memiliki anggapan tertentu dan memberikan penghormatan kepada orang yang telah meninggal. Dengan penguburanterhadap orang yang telah meninggal maka konsep kepercayaan tentang adanya hubungan antara orang yang telah meninggal dan yang masih hidup telah diyakini.

KEHIDUPAN MASYARAKAT BETERNAK DAN BERCOCOK TANAM
Masa bercocok tanam Pada masa ini kemampuan berpikir manusia mulai berkembang. Sehingga timbul upaya menyiapkan persediaan bahan makanan yang cukup dalam suatu masa tertentu. Dalam upaya tersebut maka manusia bercocok tanam dan tidak lagi tergantung kepada alam.


1. Lingkungan alam kehidupan


Kemampuan berfikir manusia untuk mempertahankan kehidupannya, mulai berkembang. Hal ini, mengakibatkan munculnya kelompok-kelomok manusia dalam jumlah yang lebih banyak serta menetap di suatu tempat. Hal ini berawal dari upaya manusia untuk menyiapkan persediaan bahan makanan yang cukup dalam suatu masa tertentu dan tidak perlu mengembara lagi untuk mencari makanan.
Dalam kehidupan menetap itu, manusia mulai hidup dari hasil bercocok tanam. Di samping itu, mereka mulai menjinakkan hewan-hewan yang dapat memenuhi kebutuhan hidupnya seperti, kuda, anjing, kerbau, sapi, dan babi. Dari pola kehidupan ini, manusia dapat menguasai alam beserta isinya.
Kehidupan ber cocok tanam yang pertama kali dikenal oleh manusia adalah berhumah. Berhumah adalah tehnik bercocok tanam dengan cara membersihkan hutan dan menanaminya. Oleh karena itu, manusia mulai menerapkan kehidupan bercocok tanam pada tanah-tanah persawahan.


2.Kehidupan sosial


Kehidupan masyarakat pada masa itu, mengalami peningkatan yang cukup besar. Masyarakatnya sudah memiliki tempat tinggal yang tetap. Hal ini dimaksudkan agar hubungan antar manusia dalam kelompok masyarakatnya semakin erat.
Kehidupan social yang dilakukan oleh masyarakat pada masa itu, melalui cara bekerja dengan bergotong- royong. Cara hidup bergotong- royong itu, merupakan salah satu ciri masyarakat yang bersifat agraris.
Dalam perkembangannya, pola hidup menetap telah membuat hubungan social masyarakat terjalin dan terorganisasi dengan lebih baik. Dalam perkumpulan masyarakat, terdapat satu pemimpin yang disebut dengan kepala suku, sosok kepala suku merupakan sosok yang sangat dipercaya dan diaati untuk memimpin sebuah kelompok masyarakat.


3.Kehidupan ekonomi


Pada masa itu, kebutuhan hidup masyarakan semakin bertambah, namun tidak ad satu anggota masyarakat pun yang dapat memenuhi kebituhan hidupnya sendiri. Oleh karena itu, mereka menjalin hubungan yang lebih erat dengan masyarakat diluar daerah tempat tinggalnya. Pertukaran barang dengan barang lain, menjadi awal munculnya system perdagangan atau perekonomian dalam masyarakat.
Dengan berkembangnya system perekonomian, maka untuk memperlancar perdagangan, dibutuhkan suatu tempat khusus untuk tempat pertemuan antara penjual dan pembeli yang disebut pasar.




4.Sistem kepercayaan masyarakat


Perkebangan system kepercayaan masyarakat pada masa itu, merupakan kelanjutan dari kepercayaan kehidupan sebelumnya. Bukan hanya, mereka telah mempunyai konsep tentang apa yang terjadi dengan seseorang yang telah meninggal. Mereka percaya bahwa orang-orang yang meninggal rohnya pergi ke satu tempat yang tidak jauh dari tempt tinggalnya atau roh yang telah meninggal itu, sewaktu-waktu dapat dipanggil untuk dimintai batuannya dalam kasus tertentu.
Inti kepercayaan ini, berkembang dari zaman ke zaman.penghormatan dan pemujaan kepada roh nenek moyang merupakan suatu kepercayaa yang berkembang di seluruh dunia. Hal ini muncul dari anggapan masyarakat bahwa roh tersebut ada tempat yang lebih tinggi.
Berdasarkan kepercayaan itu, seorang kepala suku memilki kekuasaan penuh terhadap kelompoknya.


5. Kehidupan budaya


Perkembangan budaya pada masa itu, semakin pesat , Karena manusia dapat mengembangkan dirinya untuk menciptakan kebudayaan yang lebih baik.
Hasil-hasil kebudayaan masyarakat pada masa kehidupan bercocok tanam adalah sebagai berikut :
• Beliung persegi, yang diduga sebagai benda upacara
• Kapak lonjong, dengan garis yang penampangnya memperlihatkan sebuah bidang yang berbentuk lonjong (besar dan kecil)
• Mata panah, merupakan perlengkapan berburu untuk menangkap ikan
• Gerabah, terbuat dari tanah liat yang dibakar sebagai tempat untuk menyimpan benda-benda perhiasan.


6. Perhiasan


Pada masa itu, telah dikenal berbagai bentuk perhiasan. Bahan dasar pembuatan perhiasan diambil dari bahan-bahan yang ada isekitar lingkungan tempat tinggalnya. Bahan-bahan yang digunakan untuk membuat perhiasan seperti, tanah liat, batu kalsedon, yaspur, dan agat. Dari bahan-bahan itulah masyarakat membuat berbagai bentuk perhiasan yang diinginkannya seperti kalung, gelang, dll. Namun, demikian sangat sulit untuk menemukan perhiasan dari tanah liat karena perhiasan itu telah menyatu kembali ke dalam tanah.



MASA PERUNDAGIAN

a) Kehidupan Sosial

• Jumlah penduduk semakin bertambah. Kepadatan penduduk bertambah, pertanian dan peternakan semakin maju, mereka memiliki pengalaman dalam bertani dan berternak mereka mengenal cara bercocok tanam yang sederhana.

• Mereka memiliki pengetahuan tentang gejala alam dan musim, mereka mulai dapat memperkirakan peristiwa alam dan memperhitungkan musim tanam dan musim panen.

• Dengan diterapkan sistem persawahan maka pembagian waktu dan kerja semakin diketatkan.

• Dalam masyarakat muncul golongan undagi, mereka merupakan golongan yang terampil untuk melakukan perkerjaan seperti pembuatan rumah kayu, gerobak, maupun benda logam. Pertanian tetap menjadi usaha utama masyarakat.

• Dari segi sosial, kehidupan masyarakat zaman ini semakin teratur. Contohnya : ada pembagian kerja yang baik berdasarkan kemampuan yang dimiliki masing-masing individu.

• Pembagian kerja semakin komplek dimana perempuan tidak hanya bekerja di rumah tetapi juga berdagang di pasar.

b) Kehidupan Ekonomi
• Dari segi ekonomi, pada masa ini telah terjadi perdagangan dengan cara tukar menukar/ barter dimana perdagangan tersebut dilakukan dengan menggunakan perahu bercadik. Perdagangan tersebut berlangsung di kawasan Asia Tenggara bahkan sampai ke India. Hal ini terbukti dengan masuknya pengaruh India ke Indonesia.

c) Kehidupan Budaya
• Masyarakat zaman ini telah menunjukkan tingkat budaya yang tinggi terlihat dari berbagai bentuk benda seni dan upacara yang ditemukan menunjukkan keterampilan masyarakat perundagian yang tinggi

• Zaman ini ditandai dengan pesatnya kemampuan membuat alat-alat akibat perkembangan teknologi. Mereka menemukan teknologi peleburan biji logam. Oleh karena itu, semakin banyak manusia yang menggunakan logam untuk memenuhi perkakas hidupnya.

• Pada zaman perunggu, orang dapat memperoleh jenis logam yang lebih keras daripada tembaga, sebab perunggu merupakan logam campuran dari tembaga dan timah. Sehingga dapat dikatakan bahwa kebudayaan manusia pada zaman ini jauh lebih tinggi. Terbukti masyarakatnya sudah mengenal teknologi peleburan dan pencampuran logam.

• Pada zaman besi, manusia telah menemukan logam yang jauh lebih keras lagi dimana harus dileburkan pada titik lebur yang cukup tinggi. Sehingga alat-alat pada zaman ini telah lebih sempurna daripada sebelumnya. Kemampuan membuat benda-benada jauh lebih tinggi tingkatannya dibandingkan dengan masa sebelumnya. Teknologi peleburan logam yang digunakan adalah dengan sistem pemanasan, pencetakan logam, pencampuran logam dan penempaan logam
.
• Pada zaman Perundagian peralatan gerabah masih ditemukan dengan teknologi yang semakin maju. Hal ini menunjukkan bahwa peranan alat-alat dari gerabah tersebut tidak dapat digantikan dengan mudah oleh alat-alat dari dari logam.




d) Kepercayaan
• Keberhasilan segala usaha dianggap tergantung pada kekuatan supranatural oleh karena itu setiap usaha harus dimulai dengan upacara khusus untuk mendapatkan restu dari nenek moyang.

• Dalam seni lukisan semakin menggambarkan kehidupan beragama yang menetap. Lukisan tersebut dimaksudkan untuk memuja roh nenek moyang. Kepercayaan terhadap roh nenek moyang tersebut disertai dengan upacara-upacara tertentu. Pada masa ini golongan ulama memiliki kedudukan yang penting dalam masyarakat, sebab mereka adalah orang yang menghubungkan antara dunia dengan kekeuatan gaib

e) Teknologi
• Teknologi dapat dilihat dari pembuatan alat-alat pada masa itu. Terlebih lagi teknologi tersebut terlihat pada masa penggunaan alat-alat dari logam. Hal ini disebabkan karena teknik yang digunakan untuk membuat alat-alat dari logam tersebut diadopsi dari teknik membuat logam di daratan Cina.

• Logam digunakan sebab penggunaan alat bercocok tanam dari logam lebih efisien selain itu memiliki nilai artistik yang lebih tinggi jika dibandingkan alat-alat dari batu.

• Zaman logam disebut juga zaman perundagian dimana masyarakat telah mampu membuat peralatan dengan teknologi sederhana dengan bahan baku logam.

• Teknik yang digunakan pada masa itu adalah teknik a cire perdue. Caranya sebagai berikut :
1. Benda yang hendak dibuat, terlebih dulu dibuat dari lilin lengkap dengan segala bagiannya.
2. Model lilin tersebut kemudian ditutup dengan tanah
3. Dengan cara dipanaskan maka tanah tersebut akan menjadi keras, sedangkan lilinnya akan cair dan mengalir keluar dari lubang yang ada dalam selubung
4. Jika lilin telah habis maka logam cair dapat dituang ke tempat lilin tadi
5. Setelah dingin, selubung tanah dipecah dan jadilah benda yang kita kehendakai yang terbuat dari logam.

0 komentar:

Poskan Komentar